SM+ Akuisisi Lima Data Center PDG di Indonesia

SM+ menandatangani perjanjian untuk mengakuisisi bisnis lima pusat data PDG di Indonesia. Fasilitas yang telah beroperasi itu tersebar di Jabodetabek, Bandung, Surabaya, dan Pekanbaru.

sm-plus-akuisisi-lima-data-center-pdg-indonesia

PT SMPlus Digital Investama (SM+), perusahaan yang didukung Sinar Mas, menandatangani perjanjian untuk mengakuisisi bisnis pusat data Princeton Digital Group (PDG) di Indonesia. Transaksi tersebut mencakup lima fasilitas yang telah beroperasi di Jabodetabek, Bandung, Surabaya, dan Pekanbaru.

Kesepakatan ini menambah kehadiran SM+ di sektor infrastruktur digital. Namun, pengumuman yang tersedia menyebutkan penandatanganan perjanjian akuisisi, bukan penyelesaian transaksi. Belum ada rincian mengenai nilai kesepakatan maupun jadwal penuntasan yang disampaikan dalam keterangan tersebut.

Informasi mengenai transaksi ini dikutip pada Senin, 12 Oktober 2026. Lima fasilitas yang menjadi cakupan kesepakatan merupakan pusat data yang sudah berjalan, sehingga fokus transaksi berada pada bisnis dan aset operasional PDG di Indonesia.

Lima pusat data PDG tersebar di empat wilayah

Fasilitas yang masuk dalam transaksi berada di wilayah Jabodetabek, Bandung, Surabaya, dan Pekanbaru. Sumber tidak merinci jumlah pusat data di masing-masing kota ataupun kapasitas setiap fasilitas. Yang dipastikan, seluruhnya merupakan aset operasional yang telah dikembangkan untuk melayani kebutuhan penyimpanan dan pengolahan data.

PDG mulai memasuki pasar Indonesia pada 2019 dengan mengambil alih portofolio pusat data yang telah mapan. Selama mengelola aset tersebut, perusahaan melakukan investasi dan peningkatan fasilitas. Langkah itu ditempuh di tengah kebutuhan penyimpanan dan pemrosesan data yang terus meningkat.

Dengan rencana pengambilalihan ini, SM+ akan memperoleh bisnis pusat data yang telah memiliki jaringan fasilitas di sejumlah wilayah. Keberadaan aset di beberapa kota menjadi bagian penting dari kesepakatan, meski informasi mengenai kapasitas, pelanggan, serta nilai transaksi belum diumumkan.

PDG menyebut transaksi bagian dari strategi jangka panjang

CEO PDG Rangu Salgame menegaskan pelepasan bisnis pusat data tersebut bukan tanda perusahaan meninggalkan Indonesia. Ia menjelaskan, strategi PDG sejak awal adalah memasuki pasar, membangun operasi, lalu mengembangkan skala bisnis. Di Indonesia, perusahaan memulai langkah itu melalui akuisisi portofolio yang sudah mapan dan investasi untuk memperluas kapabilitas.

“Di Indonesia, kami memasuki pasar melalui akuisisi portofolio pusat data yang sudah mapan, sembari berinvestasi untuk memperluas kapabilitas kami dan membangun bisnis hyperscale,” kata Rangu Salgame.

PDG juga mengembangkan kampus pusat data berskala besar dengan kapasitas total 400 megawatt. Kampus tersebut mencakup JC2, JC3, dan JC4, yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan perusahaan teknologi besar terhadap ruang dan daya dalam jumlah besar.

Salgame menyebut PDG tetap berencana berinvestasi untuk melakukan ekspansi. Menurut dia, transaksi tersebut merupakan langkah yang selaras dengan upaya perusahaan melayani kebutuhan pelanggan hyperscale yang terus berkembang di Indonesia dan kawasan Asia Pasifik. Pernyataan itu menegaskan bahwa strategi PDG di pasar Indonesia tetap berlanjut, meskipun bisnis lima fasilitas operasionalnya masuk dalam kesepakatan dengan SM+.

Langkah SM+ memperluas portofolio infrastruktur digital

SM+ merupakan platform investasi infrastruktur dan layanan digital yang didukung Sinar Mas melalui PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA). Akuisisi bisnis PDG menambah langkah perusahaan dalam membangun keterlibatan di sektor teknologi dan infrastruktur digital.

Sebelumnya, SM+ juga mengumumkan kerja sama dengan Korea Selatan untuk mendirikan pusat data AI bernama SMX01 di Jakarta. Informasi yang tersedia belum menjelaskan hubungan antara proyek tersebut dan transaksi lima fasilitas PDG. Keduanya disebut sebagai langkah berbeda yang telah diumumkan SM+ dalam pengembangan bisnis digitalnya.

Perkembangan berikutnya akan bergantung pada penyelesaian transaksi dan rincian operasional yang belum dipublikasikan. Bagi SM+, lima pusat data yang tersebar di empat wilayah dapat menjadi pijakan untuk memperluas portofolio. Sementara bagi PDG, perusahaan menyatakan tetap berfokus pada pengembangan bisnis hyperscale di Indonesia dan kawasan Asia Pasifik.

Infoharian