Lapas Banjarmasin Skrining TB terhadap 20 Tahanan Baru

Lapas Kelas IIA Banjarmasin memeriksa kesehatan 20 tahanan baru, termasuk melalui skrining TB dengan sampel dahak. Petugas juga mendata riwayat kesehatan dan menjelaskan alur layanan medis.

lapas-banjarmasin-skrining-tb-20-tahanan-baru

Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Banjarmasin, Kalimantan Selatan, melakukan skrining kesehatan terhadap 20 tahanan baru untuk mendeteksi tuberkulosis (TB) sejak dini. Pemeriksaan ini menjadi bagian dari upaya mencegah risiko penularan penyakit di lingkungan pemasyarakatan.

Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin Akhmad Herriansyah mengatakan pemeriksaan kesehatan awal juga ditujukan untuk mengidentifikasi kebutuhan medis setiap tahanan. Informasi yang dihimpun petugas menjadi dasar untuk menentukan tindak lanjut sesuai prosedur.

“Kami berkomitmen mendukung pelayanan kesehatan yang terarah agar kebutuhan medis dapat teridentifikasi dan ditangani sesuai prosedur,” ujar Herriansyah di Banjarmasin, Senin.

Skrining TB dan pemeriksaan awal tahanan

Pemeriksaan dilakukan petugas kesehatan klinik lapas sejak para tahanan masuk. Petugas mengukur tekanan darah, tinggi badan, dan berat badan, lalu mendata riwayat kesehatan. Rangkaian ini memberikan gambaran awal kondisi masing-masing tahanan dan membantu menentukan kebutuhan penanganan berikutnya.

Skrining TB dilakukan melalui pemeriksaan sampel dahak. Pemeriksaan tersebut menjadi bagian dari deteksi dini penyakit menular, sekaligus menyediakan informasi awal bagi petugas untuk menilai apakah diperlukan tindak lanjut medis.

Langkah ini juga diarahkan untuk mendukung pencegahan penularan di lingkungan lapas. Namun, informasi yang disampaikan mengenai kegiatan tersebut tidak merinci hasil pemeriksaan sampel maupun jumlah tahanan yang memerlukan penanganan lanjutan.

Selain pemeriksaan fisik dan sampel dahak, petugas mencatat sejumlah faktor risiko kesehatan. Data itu menjadi bagian dari upaya memahami kondisi dan kebutuhan layanan tiap tahanan selama berada di lingkungan pemasyarakatan.

Riwayat kesehatan dan faktor risiko ikut didata

Faktor yang ditanyakan mencakup riwayat penggunaan narkoba, kepemilikan tato, perilaku seksual berisiko, riwayat penyakit dalam, serta kepesertaan BPJS Kesehatan. Pendataan tersebut membantu petugas mengidentifikasi hal-hal yang perlu mendapat perhatian dalam pelayanan kesehatan.

Petugas kesehatan Lapas Banjarmasin Milia Ahyati menjelaskan bahwa Berita Acara Pemeriksaan (BAP) kesehatan merupakan langkah awal untuk mengetahui kondisi tahanan sejak pertama kali masuk. Pemeriksaan itu sekaligus menjadi sarana mencatat faktor risiko yang perlu diperhatikan selama mereka menjalani masa penahanan.

Dengan data awal tersebut, Klinik Lapas Banjarmasin mengoptimalkan pendataan kesehatan sebagai dasar penentuan tindak lanjut medis. Skrining TB menjadi salah satu bagian dari pemeriksaan yang lebih luas, bukan satu-satunya aspek yang diperiksa ketika tahanan baru masuk.

Alur layanan medis dijelaskan kepada tahanan

Dalam pemeriksaan awal, petugas juga menerangkan alur pelayanan pengobatan. Penjelasan ini diberikan agar tahanan mengetahui prosedur yang perlu diikuti ketika membutuhkan pemeriksaan atau penanganan medis.

Mekanisme layanan yang disampaikan mencakup rawat jalan hingga rawat inap apabila diperlukan. Dengan mengetahui jalur pelayanan sejak awal, tahanan baru diharapkan memahami cara mengakses pemeriksaan dan perawatan selama berada di lapas.

Herriansyah menyebut pemeriksaan kesehatan awal sebagai bagian dari komitmen pemenuhan layanan medis bagi tahanan. Sementara itu, Milia menekankan fungsi BAP kesehatan untuk mengenali kondisi dan faktor risiko sedini mungkin.

Rangkaian pemeriksaan, pendataan, dan penjelasan prosedur tersebut menghubungkan skrining dengan pelayanan kesehatan lanjutan. Bagi Klinik Lapas Banjarmasin, informasi yang terkumpul menjadi dasar untuk menindaklanjuti kebutuhan medis sekaligus mendukung pengendalian penyakit di lingkungan pemasyarakatan.

Upaya deteksi dini seperti ini menempatkan pemeriksaan kesehatan sebagai salah satu langkah awal dalam pengelolaan kesehatan tahanan. Tindak lanjut terhadap hasil skrining dan pemahaman atas alur layanan menjadi bagian penting agar kebutuhan medis dapat ditangani sesuai prosedur.

Infoharian