Pinjaman Konsumsi China Anjlok, Warga Makin Menahan Belanja
Pinjaman konsumsi jangka pendek di China turun 8,3 persen pada September 2026. Warga menahan belanja, sementara bank semakin selektif di tengah risiko gagal bayar.
Pinjaman konsumsi jangka pendek di China turun 8,3 persen secara tahunan pada September 2026, penurunan terdalam sejak pencatatan dimulai. Di tengah dorongan pemerintah agar warga kembali berbelanja, rumah tangga justru kian berhati-hati mengambil utang maupun mengeluarkan uang.
Laporan The Economist menyebut, pada bulan sebelumnya, total pinjaman konsumsi yang masih berjalan juga berada di titik terendah sejak China memberlakukan pembatasan ketat selama pandemi Covid-19. Gejala serupa terlihat saat libur panjang pada awal Oktober 2026. Rata-rata pengeluaran warga selama liburan itu turun 2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Perkembangan tersebut menjadi tantangan bagi pedagang dan pemerintah. Sejak pandemi berakhir, Beijing berupaya mendorong konsumsi masyarakat, tetapi keinginan warga untuk berutang dan berbelanja belum menunjukkan pemulihan.
Krisis properti menekan pinjaman rumah tangga
Melemahnya pasar properti menjadi salah satu alasan turunnya pinjaman. Selama bertahun-tahun, pembelian rumah merupakan pendorong utama masyarakat China mengambil pinjaman dalam jumlah besar. Namun, penjualan rumah yang terus turun membuat semakin sedikit warga mengajukan kredit untuk membeli hunian.
Sebagian pemilik rumah yang masih memiliki cicilan bahkan memilih melunasi utangnya lebih cepat ketika mempunyai uang lebih. Perubahan perilaku ini ikut menahan pertumbuhan utang rumah tangga, yang sebelumnya berkembang pesat seiring aktivitas pembelian properti.
Pada 2020, utang rumah tangga China setara sekitar 60 persen dari produk domestik bruto (PDB). Rasio itu cenderung tidak berubah selama beberapa tahun, sebelum sedikit menurun pada 2025. Sebagai pembanding, rasio utang rumah tangga di negara-negara maju berada sedikit di bawah 70 persen.
Angka tersebut memberi gambaran bahwa utang rumah tangga China tidak lagi bertambah seperti sebelumnya. Namun, tekanan pada sektor properti bukan satu-satunya persoalan yang membuat penyaluran kredit melemah. Kekhawatiran mengenai kemampuan peminjam membayar utang juga ikut membayangi bank.
Bank menghadapi risiko gagal bayar yang meningkat
Pemerintah China berupaya membuat pinjaman lebih terjangkau. Pada 2025, pemerintah mulai memberikan subsidi kepada bank agar lembaga keuangan dapat menawarkan bunga lebih murah. Kredit itu dapat digunakan untuk membeli barang bernilai besar, seperti mobil baru, atau membiayai renovasi rumah.
Kebijakan tersebut diharapkan mendorong warga kembali mengambil pinjaman dan berbelanja. Namun, bank menghadapi risiko yang berlawanan: semakin banyak nasabah yang kesulitan melunasi kewajiban mereka. Perusahaan konsultan Gavekal, dalam perhitungan yang dikutip The Economist, memperkirakan lebih dari 10 persen penduduk dewasa China memiliki utang yang belum dibayar pada 2025. Pada 2024, angkanya masih kurang dari 8 persen.
Kenaikan itu membuat bank lebih waspada terhadap kemungkinan kredit tidak kembali. Dalam keadaan normal, risiko gagal bayar yang lebih besar dapat mendorong pemberi pinjaman mengenakan bunga lebih tinggi sebagai antisipasi kerugian. Akan tetapi, subsidi pemerintah justru diarahkan agar bunga pinjaman lebih rendah.
Bank pun berada di antara dua tekanan: didorong menyalurkan kredit murah, tetapi harus memperhitungkan kemampuan nasabah membayar. Untuk menekan potensi kerugian, bank semakin selektif menentukan peminjam. Warga yang dianggap berisiko tinggi akhirnya lebih sulit memperoleh kredit.
Nilai jual utang bermasalah ikut merosot
Kesulitan bank tidak berhenti pada proses pemberian kredit. Ketika nasabah gagal membayar, bank juga kian sulit menjual tagihan tersebut kepada perusahaan atau investor yang menangani utang bermasalah. Pembeli biasanya mengambil alih tagihan dengan harga diskon, lalu berupaya menagih pembayaran kepada peminjam.
Contohnya, tagihan senilai 100 yuan yang lama tidak dibayar dapat dijual bank dengan harga jauh di bawah nilai utang. Pada awal 2021, pinjaman bermasalah dengan nilai nominal 100 yuan rata-rata masih dapat dijual sekitar 30 yuan. Memasuki awal 2026, harganya turun tajam menjadi hanya 5 yuan.
Jatuhnya nilai jual itu menunjukkan bahwa pemulihan dana dari utang bermasalah semakin sulit dihargai oleh calon pembeli. Bagi bank, kondisi tersebut menambah alasan untuk berhati-hati sebelum menyalurkan pinjaman baru, terutama kepada peminjam yang dipandang memiliki risiko tinggi.
Dengan konsumsi yang belum pulih, pasar properti yang lemah, dan kekhawatiran terhadap pembayaran utang, upaya mendorong kredit murah menghadapi hambatan berlapis. Perkembangan pinjaman dan belanja rumah tangga akan menjadi indikator penting untuk melihat apakah langkah pemerintah mampu mengubah sikap warga China yang kini lebih memilih menahan pengeluaran.
