UE Siapkan Kuota Mobil Hybrid China hingga 350 Ribu

Uni Eropa menyiapkan kuota impor mobil hybrid China hingga 350.000 unit pada tahun pertama. Rencana itu muncul di tengah lonjakan penjualan dan perluasan pabrik produsen China di Eropa.

ue-siapkan-kuota-mobil-hybrid-china-350-ribu

Uni Eropa berencana membatasi impor mobil hybrid China hingga 350.000 unit pada tahun pertama penerapan kebijakan. Rencana ini muncul setelah produsen otomotif China memperbesar penjualan kendaraan hybrid dan plug-in hybrid di Eropa, menyusul tarif tambahan yang lebih dulu dikenakan pada mobil listrik murni buatan negara tersebut.

Menurut dokumen yang dilihat Bloomberg, kuota 350.000 unit akan berlaku mulai 1 Desember. Batas impor itu kemudian direncanakan meningkat 6 persen setiap tahun, selama empat tahun. Namun, laporan lain menyebut rencana tersebut masih menunggu persetujuan negara-negara anggota Uni Eropa. Dengan demikian, rincian dan status penerapannya belum sepenuhnya seragam dalam berbagai laporan.

Kebijakan ini ditujukan untuk memberi ruang bagi produsen otomotif lokal menghadapi persaingan merek China yang kian kuat. Uni Eropa juga berharap pembatasan impor dapat membantu menekan defisit perdagangan dengan China.

Lonjakan mobil hybrid China setelah tarif kendaraan listrik

Tarif tambahan Uni Eropa terhadap mobil listrik murni asal China diberlakukan pada 2024. Setelah kebijakan itu diterapkan, sejumlah produsen China mengalihkan perhatian ke kendaraan hybrid dan plug-in hybrid, yang sebelumnya tidak terkena tarif serupa.

Perubahan strategi tersebut terlihat pada pangsa pasar. Pada semester pertama 2026, mobil plug-in hybrid asal China menguasai 25 persen penjualan di segmen itu di Eropa, naik dari 2 persen pada 2024. Untuk segmen hybrid secara keseluruhan, pangsa kendaraan China mencapai 14 persen, dibandingkan 2 persen pada periode yang sama dua tahun sebelumnya.

Nilai ekspor mobil hybrid China ke Uni Eropa juga meningkat. IDX Channel, mengutip Investing, melaporkan nilainya mencapai 7,5 miliar dolar AS pada paruh pertama 2026, tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni 2,5 miliar dolar AS.

BYD, SAIC Motor, dan Chery menjadi pemain utama dalam pertumbuhan tersebut. Ketiga perusahaan itu disebut menyumbang lebih dari 90 persen volume penjualan mobil hybrid asal China di Uni Eropa. Kenaikan penjualan ini menambah tekanan persaingan bagi produsen setempat, sekaligus menjadi latar belakang pembahasan pembatasan impor.

Kuota impor dan upaya meredam konflik dagang

Bloomberg melaporkan kuota 350.000 unit berlaku pada tahun pertama, lalu bertambah 6 persen per tahun. Langkah pengamanan itu direncanakan berjalan selama empat tahun. Kedua pihak juga disebut akan berkomitmen mematuhi aturan Organisasi Perdagangan Dunia.

Meski begitu, angka kuota belum sepenuhnya konsisten di berbagai pemberitaan. Laporan Financial Times yang dikutip detikOto menyebut jumlah impor untuk tahun berikutnya kemungkinan berada di kisaran 500.000 hingga 700.000 unit, sementara angka final belum diputuskan. Sebagai pembanding, sekitar 800.000 mobil hybrid buatan China dilaporkan masuk ke Eropa sepanjang 2026.

Negosiasi pembatasan ini berlangsung di tengah upaya Uni Eropa memperbaiki neraca perdagangannya dengan China. Kepala perdagangan Uni Eropa Maros Sefcovic bertemu dengan Menteri Perdagangan China Wang Wentao di Beijing pekan lalu. Bloomberg menyebut defisit perdagangan blok itu dengan China melampaui 1 miliar euro per hari.

Dalam laporan detikOto, kesepakatan tersebut diperkirakan dapat mengurangi defisit perdagangan hingga 14 miliar euro. China juga dilaporkan sepakat tidak membalas kebijakan pembatasan tersebut, sehingga kesepakatan ini diharapkan mencegah perselisihan dagang yang lebih luas.

Pabrik lokal bisa menjadi jalan keluar produsen China

Kuota yang dibahas disebut hanya berlaku bagi kendaraan yang dikirim langsung dari China, bukan mobil yang diproduksi di Eropa. Ketentuan itu membuat lokasi produksi menjadi faktor penting bagi strategi perusahaan yang ingin mempertahankan akses ke pasar kawasan tersebut.

BYD telah memiliki pabrik di Hungaria. Chery, Geely, Dongfeng, dan Leapmotor juga tengah mengembangkan fasilitas produksi di Eropa. Jika kapasitas pabrik lokal mereka bertambah, produsen China berpeluang mengurangi ketergantungan pada ekspor langsung dari negara asal.

Bagi industri otomotif Eropa, pembatasan impor dapat memberi kesempatan lebih besar kepada produsen lokal untuk bersaing. Namun, langkah tersebut belum tentu mengakhiri tekanan kompetitif apabila perusahaan China terus menanamkan modal dan memperluas produksi di kawasan itu.

Dampak kebijakan pada akhirnya akan bergantung pada aturan final, termasuk besaran kuota dan jadwal penerapannya. Bagi produsen maupun konsumen, perkembangan pembahasan ini akan menentukan bagaimana persaingan mobil hybrid di Eropa terbentuk dalam beberapa tahun mendatang.

Infoharian