Perjalanan ke Mars Menguji Daya Tahan Tubuh Manusia

Perjalanan ke Mars menghadapkan manusia pada radiasi, gravitasi rendah, dan risiko pendaratan. Dampaknya terhadap jantung dan tubuh masih menjadi tantangan yang perlu dipahami.

Perjalanan ke Mars akan menguji tubuh manusia dalam kondisi yang jauh berbeda dari kehidupan di Bumi. Paparan radiasi, gravitasi rendah, dan perjalanan panjang menjadi sejumlah risiko yang harus diperhitungkan sebelum manusia dapat tinggal di Planet Merah. Salah satu dampak yang dikhawatirkan dari gravitasi rendah adalah penurunan denyut jantung, bersama perubahan lain pada kesehatan tubuh.

Namun, informasi yang tersedia belum cukup untuk memastikan sejauh mana jantung manusia dapat beradaptasi selama misi ke Mars. Tantangan yang telah diidentifikasi menunjukkan bahwa perjalanan antariksa berawak bukan sekadar persoalan mencapai tujuan, melainkan juga menjaga kondisi fisik dan mental awak selama perjalanan dan ketika berada di sana.

Gravitasi rendah dapat memengaruhi jantung dan otot

Gravitasi Mars hanya sekitar sepertiga gravitasi Bumi. Artinya, tekanan gravitasi yang bekerja pada tubuh manusia akan jauh berkurang. Berat seseorang di Mars pun hanya sekitar sepertiga dari beratnya di Bumi, tetapi kondisi itu bukan berarti tubuh otomatis lebih sehat atau mudah beradaptasi.

Gravitasi rendah dapat memicu osteoporosis, mempercepat kerusakan otot, menyebabkan dehidrasi, serta dikaitkan dengan gangguan penglihatan dan melemahnya kekebalan tubuh. Denyut jantung juga dapat menurun. Berbagai risiko tersebut membuat dampak lingkungan Mars terhadap sistem tubuh, termasuk kerja jantung, menjadi hal yang perlu dicermati.

Perjalanan menuju Mars menghadirkan persoalan serupa. Selama berada di ruang antarplanet, awak tidak berada dalam kondisi gravitasi seperti di permukaan Bumi. Karena itu, misi berawak membutuhkan persiapan untuk menghadapi perubahan fisik yang dapat timbul selama perjalanan. Sumber yang tersedia tidak merinci metode penanganan ataupun hasil penelitian khusus mengenai kemampuan jantung untuk beradaptasi.

Radiasi menjadi ancaman sepanjang perjalanan ke Mars

Antariksawan yang menuju Mars akan terpapar radiasi sinar Matahari dan sinar kosmik. Paparan di ruang antarplanet maupun di Mars disebut jauh lebih tinggi dibandingkan paparan yang dialami penghuni stasiun luar angkasa di orbit rendah Bumi, sekitar 400 kilometer dari permukaan.

Perlindungan alami di Mars juga terbatas. Ketebalan atmosfer planet itu hanya sekitar satu persen atmosfer Bumi dan Mars tidak memiliki medan magnet. Radiasi dapat merusak sel otak serta meningkatkan risiko kanker, sehingga perlindungan awak menjadi bagian penting dalam perencanaan perjalanan.

Risiko tersebut tidak berhenti ketika wahana mendarat. Lingkungan di permukaan Mars tetap minim perlindungan dari radiasi. Sementara itu, pengetahuan mengenai dampak debu Mars terhadap manusia masih belum lengkap. Debu di sana lebih halus daripada debu di Bumi, dan meskipun sejumlah wahana penjelajah mampu bertahan lebih lama dari rencana, pengaruhnya terhadap peralatan dan manusia belum sepenuhnya diketahui.

Pendaratan dan badai debu menambah risiko misi

Mengirim wahana ke Mars tidak sesederhana mengarahkannya ke planet yang sedang berada pada jarak terdekat dari Bumi. Rute perjalanan berbentuk elips dan dapat diatur melalui manuver wahana. Guru Besar Astronomi Institut Teknologi Bandung Taufiq Hidayat pernah menjelaskan bahwa jarak terdekat hanya menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan perjalanan.

“Jarak terdekat itu hanya jadi pertimbangan karena lintasan wahana Bumi ke Mars bukan garis lurus,” kata Taufiq Hidayat.

Misi berawak juga menghadapi risiko sejak peluncuran hingga pendaratan. Sejumlah wahana NASA memang berhasil mendarat di Mars, tetapi kegagalan pendaratan oleh badan antariksa Amerika Serikat maupun negara lain menunjukkan bahwa proses itu masih rumit. “Teknik pendaratan itu rumit, belum semua parameter bisa diprediksi,” ujar Taufiq.

Badai debu turut menjadi perhatian. Meski angin di Mars diperkirakan terasa seperti angin sepoi-sepoi di Bumi karena atmosfernya tipis, badai debu dapat berlangsung lama dan meliputi wilayah luas. Debu yang menutupi permukaan berpotensi menghambat cahaya Matahari mencapai panel surya. Dalam laporan pada 2018, badai debu yang bermula pada akhir Mei disebut telah mengubah tampilan Mars dari Bumi.

Pengalaman tinggal lama di luar Bumi masih terbatas

Manusia belum memiliki pengalaman panjang hidup di lingkungan ekstrem selain di stasiun luar angkasa. Masa tinggal antariksawan di sana berkisar dari beberapa hari hingga beberapa bulan. Rekor satu misi terlama yang disebut dalam laporan tersebut adalah 437 hari 18 jam, dicapai Valeri V Polyakov di stasiun Mir pada 1994-1995.

Stasiun luar angkasa juga ditunjang sistem pendukung dan pasokan kargo yang datang berkala. Kondisi itu berbeda dari perjalanan ke Mars, ketika awak harus menghadapi perjalanan panjang serta lingkungan yang belum banyak dipahami. Karena itu, kemampuan tubuh beradaptasi—termasuk respons jantung terhadap gravitasi rendah—tetap menjadi bagian dari tantangan yang perlu dipelajari sebelum manusia menempuh misi tersebut.

Infoharian