Kehidupan di Bawah Es Antartika Mulai Terungkap

Peneliti menemukan ekosistem laut yang kaya di bawah Beting Es George VI. Danau-danau subglasial Antartika juga menyimpan mikroba yang hidup tanpa bergantung pada sinar Matahari.

kehidupan-di-bawah-es-antartika-mulai-terungkap

Peneliti menemukan ekosistem yang berisi spons, laba-laba laut, anemon, dan gurita di dasar laut Antartika yang selama berabad-abad tertutup es. Temuan itu muncul setelah bongkahan besar Beting Es George VI terlepas pada Januari 2025, membuka akses ke wilayah yang sebelumnya tersembunyi di bawah lapisan es setebal sekitar 150 meter.

Dengan kendaraan yang dikendalikan dari jarak jauh, para ilmuwan menjelajahi dasar laut yang baru tersingkap. Mereka mendapati kehidupan yang berkembang pesat meski kawasan itu terputus dari sinar Matahari dalam waktu sangat lama. Penemuan tersebut menjadi petunjuk bahwa bagian Antartika yang belum dijelajahi menyimpan ekosistem yang lebih beragam daripada yang selama ini diketahui.

Namun, temuan di dasar laut itu hanyalah satu bagian dari dunia tersembunyi di Kutub Selatan. Di bawah lapisan es yang membentang ratusan hingga ribuan meter, terdapat danau-danau yang terisolasi dari atmosfer dan lautan. Para ilmuwan mulai menyelidiki lingkungan ekstrem itu dengan teknologi pengeboran, radar, satelit, dan kendaraan bawah air.

Danau subglasial menyimpan ekosistem terisolasi

Antartika bukan sekadar hamparan es. Di bawahnya terbentang lanskap yang terdiri atas pegunungan, lembah, bukit, dan dataran. Sejumlah danau tersembunyi terbentuk di bawah lapisan es tersebut; diperkirakan jumlahnya lebih dari 700, dan setiap danau berpotensi menjadi lingkungan tersendiri.

Keberadaan danau-danau itu mulai diketahui pada 1970-an, ketika ilmuwan menggunakan radar dari udara untuk mengukur ketebalan es dan memetakan permukaan di bawahnya. Pada 1990-an, pengukuran satelit yang semakin akurat membantu memperluas pemahaman mereka. Gabungan data satelit, radar, dan seismik kemudian mempercepat penemuan danau subglasial, termasuk Danau Vostok pada 1996.

Danau Vostok merupakan salah satu danau air tawar terbesar di dunia. Luas permukaannya sekitar 16.000 kilometer persegi, dengan kedalaman lebih dari 1.000 meter di sejumlah titik. Letaknya terkubur di bawah lapisan es setebal sekitar 3.700 meter.

Peneliti Rusia menjadi kelompok pertama yang menyelidiki danau itu. Mereka mengebor lebih dari 3,5 kilometer di bawah permukaan dari stasiun penelitian yang dibangun di atasnya. Sampel air danau yang membeku dikumpulkan pada akhir 1990-an, disusul pengambilan sampel air pada 2013.

Kontaminasi sampel dan upaya memastikan temuan

Analisis sampel Vostok mengungkap materi genetik dari lebih dari 3.500 spesies, termasuk bakteri, makhluk laut akuatik, dan jamur. Sebagian materi genetik itu memiliki kemiripan dengan spesies yang ditemukan di tempat lain di Bumi. Meski begitu, hasil tersebut memicu perdebatan: banyak peneliti menilai kehidupan yang terdeteksi mungkin terbawa masuk selama proses pengeboran sehingga sampelnya berpotensi terkontaminasi.

Upaya lain dilakukan oleh proyek Amerika Serikat bernama WISSARD (Whillans Ice Stream Subglacial Access Research Drilling). Pada Januari 2013, timnya berhasil menembus es setebal 800 meter untuk mencapai Danau Whillans di Antartika Barat. Analisis genetik menunjukkan mikroba yang ditemukan di sana bukan hasil kontaminasi.

Penelitian lanjutan menguatkan bahwa mikroba tersebut benar-benar unik. Bakteri dan virus pemakan bakteri di Danau Whillans telah terpisah dari bagian Bumi lainnya dan berevolusi sendiri. Temuan ini memperlihatkan bagaimana kehidupan dapat bertahan dalam kondisi yang jauh berbeda dari ekosistem yang bergantung pada sinar Matahari.

Energi kimia menopang kehidupan tanpa Matahari

Di sebagian besar ekosistem, energi pada akhirnya berasal dari fotosintesis. Namun, mikroba di danau subglasial dapat memperoleh energi dari reaksi kimia. Mereka memanfaatkan bahan seperti hidrogen yang dilepaskan ketika batuan hancur, serta metana, besi, dan belerang. Proses ini dikenal sebagai kemolitoautotrofi.

“Danau-danau ini adalah salah satu dari sedikit tempat, mungkin satu-satunya, di mana Anda dapat menemukan ekosistem yang benar-benar beroperasi terpisah dari energi fotosintesis,” kata Dr. Trista Vick-Majors, asisten profesor ilmu biologi di Michigan Technological University.

Dr. John Priscu, profesor ekologi di Montana State University dan peneliti utama pada dua misi yang menembus danau bawah es, menyebut kawasan tersebut menyimpan biosfer yang belum terjelajahi. Sampai saat ini, ilmuwan baru mengambil sampel dari sebagian kecil danau tersembunyi di Antartika.

Teknologi yang terus berkembang membuka peluang untuk memahami lingkungan tersebut dengan lebih rinci. Namun, penyelidikan perlu dilakukan dengan hati-hati, terutama agar sampel tidak tercemar dan ekosistem yang rapuh tetap terlindungi. Setiap temuan baru dapat membantu menjawab bagaimana kehidupan bertahan dalam isolasi ekstrem—dan seberapa banyak lagi dunia yang masih tersembunyi di bawah es Antartika.

Infoharian