Meta Minta Maaf Usai Akun Demo No Kings Diblokir

Meta meminta maaf setelah akun Instagram penyelenggara dan peserta aksi No Kings sempat diblokir. Koalisi gerakan menilai sejumlah konten juga dibatasi dan meminta akuntabilitas.

meta-minta-maaf-akun-demo-no-kings-diblokir

Sejumlah akun Instagram milik penyelenggara dan peserta aksi No Kings di Amerika Serikat sempat tidak bisa diakses selama sekitar satu jam pada Sabtu pekan lalu, ketika demonstrasi berlangsung. Meta kemudian meminta maaf setelah sistem perlindungan otomatisnya keliru menonaktifkan akun-akun tersebut.

Aksi No Kings digelar untuk mengecam sejumlah kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, termasuk upaya deportasi yang disebut agresif dan perang Iran. Namun, gangguan yang terjadi di Instagram bukan satu-satunya persoalan yang disoroti para pengunjuk rasa. Koalisi No Kings juga menyebut sejumlah konten terkait gerakan dan pemungutan suara awal sulit diakses atau dibatasi di berbagai platform Meta.

Meta menyebut sistem keliru mendeteksi aktivitas

Juru bicara Meta, Andy Stone, mengatakan lonjakan permintaan dalam waktu singkat membuat sistem perusahaan menduga adanya lalu lintas bot otomatis. Akibatnya, perlindungan otomatis Instagram menonaktifkan akun-akun yang berkaitan dengan No Kings.

Dalam pernyataan yang dikutip Reuters pada Selasa (20/10/2026), Stone menjelaskan bahwa permintaan yang datang dalam jumlah besar dan berurutan dalam waktu singkat terlihat menyerupai aktivitas bot, bukan pola penggunaan manusia yang menjelajahi platform. Meta menyatakan kesalahan tersebut membuat akun No Kings ikut terkena tindakan sistem.

“Permintaan yang tiba-tiba dalam jumlah besar dan berurutan dalam waktu singkat menyerupai lalu lintas bot otomatis dibandingkan aktivitas manusia biasa yang menjelajahi sistem kami. Aktivitas ini menyebabkan sistem perlindungan otomatis kami secara keliru menonaktifkan akun Instagram No Kings,” kata Stone.

Stone juga menyampaikan permintaan maaf atas gangguan tersebut. Ia mengatakan proses untuk memperbaiki masalah itu membutuhkan waktu lama. Meta tidak hanya mengakui akun Instagram yang terdampak, tetapi juga menyebutkan bahwa tindakan sistem perlindungan otomatis menjadi penyebab penonaktifan.

Meski demikian, penjelasan perusahaan belum meredakan keberatan para pendemo. Mereka menilai pengalaman yang terjadi tidak terbatas pada akun yang sempat dinonaktifkan, melainkan juga mencakup pembatasan terhadap konten terkait aksi.

Koalisi No Kings meminta akuntabilitas

Koalisi No Kings menyampaikan bahwa mereka menerima laporan mengenai konten gerakan dan pemungutan suara awal yang tidak dapat diakses, dibatasi, atau tampak ditekan di berbagai platform milik Meta. Pernyataan itu disampaikan melalui BlueSky.

“Selain menutup Instagram, kami menerima laporan konten NoKings dan pemungutan suara awal tidak bisa diakses, dibatasi, atau nampaknya ditekan di seluruh platform Meta,” kata koalisi No Kings.

Bagi koalisi tersebut, permintaan maaf saja belum cukup menjawab persoalan. Mereka menginginkan penjelasan yang lebih lengkap, pertanggungjawaban atas keputusan sistem, serta langkah nyata untuk mencegah kejadian serupa. Dengan demikian, perhatian mereka tidak hanya tertuju pada pemulihan akses akun, tetapi juga pada bagaimana konten terkait aksi diperlakukan di platform.

Perbedaan antara penjelasan Meta dan keluhan koalisi menunjukkan adanya dua hal yang perlu dijawab: mengapa sistem otomatis keliru mengidentifikasi aktivitas akun dan apakah konten yang dilaporkan terdampak ikut dibatasi. Meta menyebut lonjakan aktivitas sebagai pemicu, sementara koalisi menyatakan dampaknya terasa lebih luas daripada penangguhan akun Instagram.

Gangguan terjadi saat aksi berlangsung

Akun penyelenggara dan peserta disebut tak dapat diakses selama satu jam ketika aksi No Kings berlangsung di berbagai wilayah Amerika Serikat. Waktu terjadinya gangguan membuat persoalan ini segera berkaitan dengan kemampuan penyelenggara dan peserta menggunakan akun mereka saat demonstrasi berjalan.

Namun, informasi yang tersedia tidak merinci jumlah akun yang terdampak ataupun konten spesifik yang dibatasi. Meta menyampaikan permintaan maaf dan alasan teknis terkait penonaktifan, sedangkan koalisi No Kings meminta jawaban serta perlindungan konkret. Perbedaan tuntutan itu membuat tindak lanjut perusahaan menjadi penting untuk menjelaskan cakupan gangguan dan mencegah kekeliruan serupa berulang.

Kasus ini menempatkan sistem moderasi otomatis dan penanganan konten politik dalam sorotan. Bagi pengguna, pemulihan akses merupakan langkah awal; bagi Meta, tantangan berikutnya adalah menjelaskan bagaimana mekanisme perlindungannya bekerja ketika aktivitas meningkat tajam, sekaligus menanggapi laporan pembatasan konten yang disampaikan koalisi.

Infoharian