Flu Burung di Sinjai: Kematian Unggas Mulai Menurun

Kematian unggas akibat flu burung di Sinjai mulai menurun setelah vaksinasi dan disinfeksi digencarkan. Hingga 19 Oktober 2026, total kematian tercatat 6.130 ekor.

Tingkat kematian unggas akibat flu burung di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, mulai menurun setelah Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) mengintensifkan vaksinasi, penyemprotan disinfektan, dan pengawasan lalu lintas unggas. Hingga 19 Oktober 2026, jumlah kematian yang tercatat mencapai 6.130 ekor, dengan kasus terbanyak di Kecamatan Sinjai Utara.

Kepala DPKH Sinjai Syamsul Alam mengatakan penurunan itu terlihat setelah strategi penanganan terpadu digencarkan sejak awal pekan. Petugas lapangan, kata dia, masih disiagakan untuk menjaga kesehatan ternak warga dan mengantisipasi penularan susulan.

Data dinas menunjukkan 4.739 unggas mati di Kecamatan Sinjai Utara. Angka kumulatif tersebut meningkat dari catatan sebelumnya yang menyebut kematian sempat mencapai 6.120 ekor. Pemerintah daerah terus memperbarui pendataan seiring penelusuran kasus di lapangan.

Vaksinasi diprioritaskan di luar titik penularan

DPKH menargetkan vaksinasi terhadap 138.188 ekor unggas. Dari jumlah itu, 6.792 ekor telah divaksin. Target terbesar berada di Kecamatan Tellulimpoe, yakni 33.849 ekor.

Syamsul menjelaskan, ketersediaan vaksin mencapai 150.000 dosis, sementara populasi unggas di Sinjai tercatat lebih dari satu juta ekor. Karena itu, pelaksanaan vaksinasi dilakukan secara terukur dengan menyesuaikan data harian dan memprioritaskan kawasan di luar radius aman kasus kematian.

Vaksinasi tidak diberikan langsung di lokasi penularan aktif maupun tempat unggas ditemukan mati. Sesuai prosedur teknis yang diterapkan, petugas menjaga jarak pengamanan minimal satu kilometer dari titik tersebut. Langkah ini ditujukan agar vaksinasi dilakukan pada kawasan yang sesuai dengan strategi pengendalian.

Di Kecamatan Tellulimpoe, sasaran vaksinasi menjadi yang terbesar dibandingkan kecamatan lain. Namun, data vaksinasi yang telah terlaksana menunjukkan pekerjaan masih berlanjut. DPKH menyatakan pendataan terus disesuaikan setiap hari untuk menentukan jangkauan dan kebutuhan penanganan berikutnya.

Disinfeksi dan pengawasan pergerakan unggas

Upaya pengendalian juga dilakukan melalui pembersihan dan penyemprotan disinfektan pada kandang serta lingkungan sekitar. Hingga laporan DPKH, kegiatan disinfeksi telah menjangkau 389 kepala keluarga di delapan kecamatan. Petugas turut meningkatkan pemeriksaan kendaraan pengangkut unggas di pos-pos perbatasan wilayah.

Pengawasan pergerakan unggas menjadi salah satu bagian dari pencegahan penyebaran. Dalam penelusuran yang dilakukan Kementerian Pertanian bersama pemerintah daerah, aktivitas rutin yang mempertemukan ayam aduan dari sejumlah wilayah di Kelurahan Lappa, Sinjai Utara, turut ditemukan. Sebagian unggas dalam kegiatan itu berasal dari luar Kabupaten Sinjai.

Kementerian Pertanian menyebut pertemuan dan pergerakan unggas tersebut sebagai salah satu faktor risiko yang sedang didalami, bukan sebagai sumber penularan yang telah dipastikan. Penelusuran asal unggas, kondisi kesehatannya, penerapan biosekuriti, dan riwayat pergerakan diperlukan untuk membantu petugas memahami jalur penyebaran.

Kasus kematian unggas mulai ditangani setelah laporan masuk melalui sistem iSIKHNAS pada 23 September 2026. Balai Besar Veteriner Maros kemudian berkoordinasi dengan DPKH Sinjai untuk melakukan penyelidikan epidemiologi, mengambil sampel, dan memeriksa penyebab kematian. Pada periode 23 September hingga 6 Oktober, laporan awal menyebut sekitar 2.800 unggas mati; angka itu kemudian terus diverifikasi dan diperbarui.

Hasil laboratorium mengonfirmasi flu burung

Pemeriksaan sampel di laboratorium Balai Besar Veteriner Maros menggunakan metode real-time polymerase chain reaction (RT-PCR) menunjukkan hasil positif Avian Influenza subtipe H5 clade 2.3.2. Konfirmasi tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk mengarahkan langkah pengendalian, termasuk memperkuat surveilans dan biosekuriti.

Petugas juga menyampaikan edukasi kepada pemilik unggas mengenai pemenuhan nutrisi dan vitamin secara mandiri. Kementerian Pertanian mengingatkan masyarakat agar segera melapor jika mendapati unggas mati mendadak atau dalam jumlah tidak wajar. Pelaporan dini memungkinkan petugas melakukan pemeriksaan dan mengambil tindakan lebih cepat.

Peternak juga diminta menjaga kebersihan kandang dan peralatan, memisahkan unggas sakit dari yang sehat, serta membatasi keluar-masuknya unggas. Dengan jumlah kematian yang masih terus didata, keberlanjutan vaksinasi, disinfeksi, dan kewaspadaan warga akan menjadi bagian penting dalam mencegah kasus meluas ke wilayah lain.

Infoharian