KPA Merauke Kukuhkan Duta Sebaya untuk Cegah HIV
KPA Merauke mengukuhkan puluhan pelajar dari lima sekolah sebagai duta KomPas. Mereka dibekali materi pencegahan HIV, edukasi sebaya, dan penanganan stigma.
Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Merauke mengukuhkan puluhan pelajar sebagai duta KomPas setelah mereka mengikuti pelatihan selama dua hari di Aula KPA, 20 September 2026. Para siswa disiapkan untuk mengedukasi teman sebaya dan membantu mencegah penyebaran HIV serta infeksi menular seksual (IMS) di lingkungan sekolah.
Peserta berasal dari lima sekolah dan madrasah: SMK Negeri 3, SMK Santo Antonius, MAS An-najjah Yamra, SMAS Plus Muhammadiyah, serta MAS DDI Lampu Satu. Setelah pembekalan, para pelajar diharapkan meneruskan informasi kesehatan yang mereka peroleh ke ruang-ruang kelas.
Sekretaris KPA Kabupaten Merauke, Sudarmi, mengatakan edukator sebaya dapat berperan penting dalam upaya penanggulangan HIV dan AIDS di kalangan remaja. Menurut dia, siswa dapat membawa pengetahuan dari pelatihan kepada teman-temannya di sekolah.
“Dengan dibukanya pelatihan KomPas, harapan kami agar siswa-siswi bisa menjadi agent educator dan membawa bekal untuk teman-teman sekolah untuk selalu peduli dan bisa menjadi penanggulangan HIV dan AIDS di sekolah,” ujar Sudarmi.
Duta KomPas membawa edukasi ke lingkungan sekolah
Program ini bertumpu pada pendekatan teman sebaya. Remaja dinilai cenderung lebih terbuka membicarakan kesehatan reproduksi dengan kawan seusia dibandingkan dengan figur otoritas. Karena itu, duta KomPas tidak hanya menerima materi, tetapi juga dibekali peran untuk menyampaikannya kembali dengan cara yang dekat dengan kehidupan pelajar.
Ada tiga tugas yang disiapkan bagi para kader muda tersebut: melakukan edukasi sebaya, memelopori pencegahan sejak dini, serta meneruskan sosialisasi hidup sehat dari KPA Merauke kepada siswa di sekolah masing-masing. Dengan peran itu, informasi tentang HIV dan IMS diharapkan dapat menjangkau lebih banyak pelajar melalui komunikasi sehari-hari.
Urgensi edukasi tersebut tergambar dalam catatan kesehatan Kabupaten Merauke hingga Agustus 2026. Akumulasi temuan HIV tercatat sebanyak 3.229 kasus. Dari jumlah itu, 1.696 kasus tercatat pada perempuan dan 1.533 pada laki-laki.
Catatan KPA menunjukkan sebagian besar infeksi berada pada kelompok usia produktif, yakni 25–49 tahun, serta kalangan muda berumur 15–24 tahun. Data tersebut menjadi latar bagi pembekalan pelajar agar memahami informasi dasar mengenai penularan dan pencegahan, sekaligus mampu membagikannya secara tepat kepada teman sebaya.
Materi HIV meluruskan mitos dan stigma
Dalam sesi kesehatan, Dr. Herard Manuputi menjelaskan perbedaan HIV dan AIDS. HIV merupakan virus yang merusak pertahanan tubuh, sedangkan AIDS adalah kumpulan gejala kritis yang muncul ketika sistem kekebalan tubuh telah mengalami kerusakan berat.
Ia menerangkan bahwa penularan HIV terjadi melalui darah, sperma, dan cairan vagina yang masuk melalui luka terbuka maupun hubungan seksual tanpa pengaman. HIV tidak menular lewat gigitan nyamuk, berjabat tangan, atau menggunakan perlengkapan makan bersama. Penjelasan ini disampaikan untuk meluruskan kekeliruan yang masih berkembang di masyarakat.
Materi pencegahan juga mencakup perilaku setia pada pasangan dan menghindari penggunaan jarum suntik bekas. Dr. Herard menyampaikan bahwa orang dengan HIV yang patuh menjalani terapi antiretroviral (ARV) dapat tetap beraktivitas normal. Terapi tersebut mampu menekan perbanyakan virus hingga tingkat tidak terdeteksi.
Pelatihan dikemas secara interaktif agar pembahasan medis tidak terasa menjemukan. Pengelola Program dan Monev Epainetus Wuryanto bersama Susi Simatauw mendampingi peserta mempelajari komunikasi efektif, penanganan stigma negatif, serta penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL).
Pelajar diajak menghadapi diskriminasi
Para peserta juga mendengarkan kesaksian langsung dari orang dengan HIV (ODHIV). Sesi itu menjadi bagian dari upaya mengurangi stigma dan mendorong siswa memahami bahwa pengidap HIV tidak semestinya mendapat perlakuan diskriminatif dalam pergaulan sehari-hari.
Pemahaman peserta dipantau melalui tes awal pada hari pertama dan tes akhir sebelum penutupan. Kedua tes tersebut digunakan panitia untuk melihat perubahan wawasan siswa setelah mengikuti rangkaian pembekalan.
Kegiatan ditutup dengan penyerahan sertifikat dan pengesahan seluruh peserta sebagai duta KomPas Merauke. Bekal pelatihan selanjutnya berada di tangan para pelajar: meneruskan informasi yang benar, membangun komunikasi tanpa stigma, dan menjalankan edukasi di sekolah masing-masing.
