Kol Goreng: Siapa yang Sebaiknya Menghindarinya?
Kol goreng sebaiknya dihindari oleh orang dengan kolesterol tinggi, hipertensi, dan riwayat penyakit kardiovaskular. Dokter juga mengingatkan pengaruh garam, penyedap, dan minyak.
Kol goreng yang gurih dan renyah menjadi pilihan banyak orang sebagai pendamping nasi. Namun, orang dengan kolesterol tinggi, hipertensi, atau riwayat penyakit kardiovaskular disarankan menghindarinya. Dokter spesialis gizi klinik, dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, mengingatkan bahwa kandungan minyak dan tambahan garam pada sajian ini dapat menjadi perhatian bagi kelompok tersebut.
Menurut Yaze, kol yang semula merupakan sayuran dapat berubah menjadi pilihan yang kurang sesuai setelah digoreng, terlebih jika prosesnya menggunakan minyak jelantah atau disertai bumbu dan garam berlebih. Karena itu, risiko tidak hanya berkaitan dengan kolnya, tetapi juga cara mengolah dan menyajikannya.
Kol goreng dan risiko bagi kesehatan pembuluh darah
Yaze menegaskan, orang yang sudah memiliki penyakit kardiovaskular tidak disarankan makan kol goreng, bahkan jika hanya sesekali. Ia menyebut kolesterol tinggi, hipertensi, dan aterosklerosis sebagai kondisi yang perlu mendapat perhatian khusus.
Aterosklerosis merupakan penyumbatan pembuluh darah yang disebut dalam penjelasan dokter tersebut. Penumpukan lemak dari minyak goreng, menurut Yaze, dapat memperburuk kondisi itu. Oleh sebab itu, orang dengan riwayat penyakit kardiovaskular sebaiknya tidak menganggap porsi kecil atau frekuensi jarang sebagai alasan untuk tetap mengonsumsi kol goreng.
Dalam keterangannya kepada detikcom, Yaze juga menyebut mereka yang memiliki kolesterol tinggi dan hipertensi perlu menghindari sajian tersebut. Anjuran ini berlaku meski kol goreng hanya disantap satu atau dua kali dalam rentang waktu tertentu. Bagi orang dengan kondisi kesehatan tersebut, pilihan yang lebih aman adalah tidak menjadikan kol goreng bagian dari menu.
Garam dan penyedap dapat menambah perhatian
Risiko yang perlu diperhatikan dapat bertambah apabila kol goreng diberi garam atau penyedap rasa dalam jumlah berlebih. Yaze menjelaskan, tambahan bumbu tersebut dapat membuat kandungan natrium pada sajian ikut tinggi. Asupan natrium yang tinggi, menurut dokter itu, berpotensi menyebabkan hipertensi.
Karena itu, orang dengan tekanan darah tinggi perlu memperhatikan bukan hanya bahan utama, tetapi juga bumbu yang digunakan. Kol goreng yang tampak sederhana bisa disajikan dengan tambahan garam, penyedap, atau minyak yang digunakan untuk menggoreng. Kebiasaan memberi bumbu berlebih membuat hidangan ini semakin tidak sesuai bagi mereka yang memiliki faktor risiko kesehatan.
Yaze juga mengingatkan bahwa kol sebenarnya merupakan sayuran yang memiliki kandungan yang dikaitkan dengan pencegahan kanker. Namun, cara pengolahan dan tambahan bahan dapat mengubah profil sajian. Dalam penjelasannya, ia menyoroti penggunaan minyak jelantah, bumbu, dan garam sebagai hal yang perlu diwaspadai, bukan menyatakan bahwa kol goreng otomatis menyebabkan kanker.
Seberapa sering orang sehat boleh makan kol goreng?
Bagi orang yang sehat dan tidak memiliki riwayat penyakit metabolik, kol goreng masih dapat dicicipi dengan frekuensi yang sangat dibatasi. Yaze menyebut konsumsi sesekali, misalnya sekitar sekali dalam seminggu, masih dapat diterima bagi orang sehat. Namun, ia menyarankan agar kebiasaan itu tidak terus diulang setiap minggu.
Ia menyarankan jeda yang lebih panjang setelah mencicipi kol goreng. Dengan begitu, hidangan ini tidak berubah menjadi menu rutin. Pembedaan tersebut penting: anjuran untuk orang sehat tidak dapat disamakan dengan mereka yang memiliki hipertensi, kolesterol tinggi, atau penyakit kardiovaskular.
Untuk menjaga kesehatan jangka panjang, orang yang berisiko dianjurkan mengganti kol goreng dengan kol segar atau kukus. Sayuran lain yang direbus juga dapat menjadi pilihan, terutama yang kaya serat dan nutrisi utuh. Mengubah cara penyajian memungkinkan kol tetap hadir sebagai sayuran tanpa harus selalu digoreng.
Jadi, sebelum memesan kol goreng, pertimbangkan kondisi kesehatan dan cara hidangan itu diolah. Bagi orang dengan riwayat penyakit pembuluh darah atau tekanan darah tinggi, menghindarinya merupakan langkah yang disarankan. Sementara bagi orang sehat, kuncinya adalah membatasi frekuensi dan tidak menjadikannya kebiasaan mingguan.
