ICMAHS 2026 Bahas Kolaborasi Penanganan Kanker

ICMAHS ke-4 di Denpasar membahas kesinambungan penanganan kanker, dari deteksi dini hingga kualitas hidup penyintas. Konferensi ini mendorong kolaborasi lintas profesi dan negara.

icmahs-2026-kolaborasi-penanganan-kanker

Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Denpasar menggelar konferensi internasional ICMAHS ke-4 di Auditorium Poltekkes Kemenkes Denpasar, Selasa (6/10/2026). Pertemuan ilmiah yang berfokus pada pendekatan multidisiplin di bidang kesehatan itu mengangkat tema inovasi penanganan kanker, dari deteksi dini hingga kualitas hidup penyintas.

Dalam publikasinya, Fajar Bali menyebut kegiatan tersebut melibatkan lebih dari 1.000 peserta. Namun, rincian partisipasi yang disampaikan Direktur Poltekkes Kemenkes Denpasar, Erika Yulita Ichwan, mencatat 384 partisipan, 76 tim presentasi lisan, dan 12 tim presentasi poster. Rincian itu mencakup akademisi, peneliti, praktisi, tenaga kesehatan, dan mahasiswa dari Indonesia serta mitra internasional.

ICMAHS, atau International Conference on Multidisciplinary Approaches in Health Sciences, merupakan konferensi ilmiah internasional tahunan. Edisi keempat ini menjadi ruang bagi peserta untuk berbagi riset dan inovasi kesehatan, dengan perhatian khusus pada tantangan penanganan kanker yang membutuhkan keterlibatan berbagai bidang.

ICMAHS 2026 menyoroti kesinambungan perawatan kanker

Tema konferensi tahun ini adalah “Advancing Cancer Care Across the Continuum: Innovations in Early Detection, Precision Treatment, Survivorship, and Quality of Life”. Tema tersebut menempatkan penanganan kanker sebagai rangkaian proses yang saling berhubungan, bukan tindakan yang berdiri sendiri.

Erika mengatakan, upaya menghadapi kanker perlu mencakup promosi kesehatan dan pencegahan, deteksi dini, diagnosis, terapi yang tepat, hingga dukungan bagi penyintas. Rangkaian itu, menurut dia, juga perlu diarahkan pada peningkatan kualitas hidup pasien.

“Kita membutuhkan kesinambungan mulai dari promosi dan pencegahan, deteksi dini, diagnosis dan terapi yang tepat, hingga survivorship dan peningkatan kualitas hidup pasien,” kata Erika.

Penekanan pada kesinambungan memperlihatkan luasnya cakupan tema ICMAHS. Deteksi dini menjadi salah satu tahap yang dibahas, tetapi perhatian konferensi tidak berhenti pada penemuan penyakit. Perawatan dan kehidupan pasien setelah menjalani pengobatan juga masuk dalam kerangka pembahasan.

Dengan tema tersebut, konferensi menghubungkan beragam tahapan dalam pelayanan kanker. Para peserta, yang berasal dari latar akademik maupun praktik kesehatan, dapat bertukar pandangan mengenai riset dan inovasi dalam lingkup yang sama. Penyelenggara menempatkan forum ini sebagai tempat berbagi pengetahuan lintas disiplin dan negara.

Kolaborasi lintas profesi menjadi pesan utama

Erika menegaskan, penanganan kanker tidak cukup dilakukan oleh satu profesi atau institusi. Kolaborasi, ujarnya, perlu dibangun lintas profesi, disiplin, institusi, bahkan negara. Pesan itu sejalan dengan pendekatan multidisiplin yang menjadi dasar konferensi.

Komposisi peserta yang melibatkan akademisi, peneliti, praktisi, tenaga kesehatan, dan mahasiswa menunjukkan beragamnya kelompok yang hadir dalam forum tersebut. Pertemuan mereka memberi ruang untuk mempertemukan perspektif riset dan praktik, sekaligus membagikan inovasi kesehatan kepada peserta dari Indonesia dan mitra internasional.

Dalam agenda ilmiahnya, panitia menerima partisipasi 76 tim untuk presentasi lisan dan 12 tim untuk presentasi poster. Kedua bentuk presentasi tersebut menjadi bagian dari pertukaran hasil kajian di konferensi. Informasi yang tersedia tidak merinci topik setiap presentasi ataupun negara asal masing-masing tim.

Perbedaan antara angka lebih dari 1.000 dalam judul publikasi dan rincian 384 partisipan yang disampaikan penyelenggara belum dijelaskan dalam keterangan tersebut. Karena itu, angka-angka itu perlu dibaca sesuai konteksnya: satu merujuk pada penyebutan jumlah keterlibatan dalam publikasi, sedangkan angka lainnya merupakan rincian partisipan beserta tim presentasi yang dilaporkan.

Forum akademik untuk memperkuat pertukaran riset

ICMAHS ke-4 mempertemukan berbagai kelompok yang memiliki peran dalam pengembangan ilmu dan layanan kesehatan. Fokus pada kanker memberi tema bersama bagi peserta, sementara pendekatan multidisiplin membuka ruang bagi pembahasan dari lebih dari satu sudut pandang.

Konferensi tahunan ini juga menandai upaya Poltekkes Kemenkes Denpasar untuk menghadirkan forum akademik dengan jejaring internasional. Pertemuan semacam ini menyediakan kesempatan bagi peserta untuk menyampaikan riset, bertukar gagasan, dan membangun hubungan dengan pihak dari institusi serta negara lain.

Penekanan pada deteksi dini, ketepatan terapi, survivorship, dan kualitas hidup menunjukkan bahwa pembicaraan tentang kanker mencakup perjalanan pasien secara lebih utuh. Keberlanjutan kolaborasi lintas profesi dan institusi akan menjadi bagian penting agar pertukaran ilmiah dalam konferensi dapat terus berhubungan dengan pengembangan penanganan kanker.

Infoharian