HIV-Talks Dampingi Kader Edukasi Remaja di Sleman

Program HIV-Talks di Sleman memadukan situs edukasi dengan pendampingan kader bagi remaja. Evaluasi mencatat kenaikan pemahaman, sekaligus kebutuhan memperkuat komunikasi.

hiv-talks-dampingi-kader-edukasi-remaja-sleman

HIV-Talks digunakan untuk membantu kader kesehatan membangun percakapan tentang HIV bersama remaja di Dusun Ngaran, Sleman. Program ini memadukan materi digital dengan pendampingan langsung, agar anak muda bisa memperoleh informasi yang benar sekaligus bertanya dalam suasana tanpa penghakiman.

Sepuluh kader HIV/AIDS dari Dasawisma Seruni dan 22 remaja berusia 13–16 tahun terlibat dalam kegiatan yang berlangsung pada Mei hingga Agustus 2026. Pelaksanaan di Kalurahan Balecatur, Kapanewon Gamping, itu dikoordinasikan bersama organisasi masyarakat setempat dan Puskesmas Gamping 1, seperti dilaporkan Suara ‘Aisyiyah.

Pendekatan tersebut berangkat dari kebutuhan yang nyata. Data lokal sampai Juni 2024 mencatat Sleman sebagai kabupaten dengan kasus HIV terlapor terbanyak di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada saat yang sama, remaja bisa mengakses banyak informasi kesehatan lewat ponsel, tetapi belum tentu seluruhnya akurat atau mudah dipahami.

Situs menjadi alat bantu percakapan

HIV-Talks menyediakan materi dasar mengenai HIV/AIDS, pencegahan, mitos dan fakta, artikel untuk anak muda, serta bahan visual. Situs itu juga memiliki ruang tanya jawab dan dapat dibuka melalui telepon pintar, tablet, maupun komputer.

Namun, program ini tidak menempatkan situs sebagai pengganti pendampingan. Materi digital dipakai kader untuk mengawali diskusi, membantu memeriksa informasi yang keliru, dan menunjukkan rujukan yang lebih tepercaya. Bila remaja memerlukan bantuan kesehatan, kader dapat mengarahkan mereka ke layanan yang sesuai.

Pembagian peran itu menjadi inti pendekatan HIV-Talks. Teknologi menyediakan bahan yang seragam, sedangkan kader membawa pemahaman terhadap lingkungan warga dan cara berkomunikasi yang lebih dekat. Dengan begitu, informasi tidak berhenti sebagai bacaan di layar.

Sebelum pendampingan kepada remaja dimulai, tim menyamakan pemahaman dengan masyarakat mengenai tujuan kegiatan dan tugas masing-masing pihak. Para kader lalu mengikuti pelatihan yang mencakup pengetahuan HIV/AIDS, pencegahan pada masa remaja dan prakonsepsi, rujukan layanan, kerahasiaan, serta dukungan yang tidak memberi stigma.

Pelatihan juga membahas komunikasi untuk mendorong perubahan perilaku dan penggunaan situs HIV-Talks. Sesi disusun dalam beberapa bentuk, antara lain paparan singkat, diskusi, pembahasan kasus, praktik mengakses situs, dan simulasi pendampingan.

Nilai pemahaman naik, komunikasi perlu diperkuat

Penilaian terhadap kader dilakukan sebelum dan sesudah program melalui 20 soal pilihan ganda. Nilai rata-rata bergerak dari 82,5 menjadi 87,5 pada skala 100. Kenaikan lima poin itu memberi gambaran adanya perkembangan pemahaman, tetapi belum berarti semua aspek meningkat dengan kadar yang sama.

Perubahan paling besar tercatat pada pemahaman tentang pelibatan masyarakat dan penggunaan HIV-Talks, yang masing-masing bertambah 16,7 poin persentase. Pengetahuan mengenai pencegahan HIV serta layanan kader naik 8,3 poin. Sementara itu, pemantauan program dan integrasi layanan sudah memperoleh nilai penuh sejak penilaian awal.

Hasil tersebut perlu dibaca sesuai lingkup kegiatan. Pesertanya hanya sepuluh kader dan nilai awal mereka relatif tinggi, sehingga peluang kenaikan pada sejumlah bagian memang terbatas. Evaluasi sebelum dan sesudah ini dipakai untuk melihat perkembangan peserta dan menemukan materi yang perlu dibenahi, bukan untuk mewakili kondisi kader di wilayah lain.

Catatan yang membutuhkan perhatian muncul pada aspek pendampingan dan komunikasi dengan remaja. Nilainya turun 8,3 poin persentase. Aspek yang dinilai meliputi empati, penjagaan kerahasiaan, komunikasi partisipatif dan terapeutik, serta proses perubahan perilaku.

Penurunan skor itu tidak serta-merta membuktikan kemampuan kader saat mendampingi remaja ikut merosot. Instrumen yang digunakan mengukur pemahaman atas prinsip komunikasi, bukan praktik langsung ketika berhadapan dengan remaja. Meski begitu, hasilnya menjadi petunjuk bahwa bagian komunikasi perlu mendapat penguatan dalam kegiatan berikutnya.

Ruang aman dibangun lewat pendampingan

Program ini menempatkan kesempatan untuk bertanya sebagai bagian dari edukasi. Remaja tidak hanya menerima ceramah, tetapi dapat mendiskusikan kekhawatiran dan menguji pemahaman dengan dukungan kader. Suasana semacam itu penting bagi isu HIV, yang kerap dibicarakan bersama mitos dan stigma.

Bagi kader, tugasnya juga tidak berhenti pada penyampaian materi. Mereka perlu menjaga kerahasiaan, mendengarkan tanpa menghakimi, dan mengenali kapan persoalan perlu dirujuk ke layanan kesehatan. Situs dapat membantu menyediakan informasi, tetapi kualitas interaksi tetap bergantung pada cara kader mendampingi.

Catatan evaluasi memberi dua arah bagi pengembangan HIV-Talks: mempertahankan materi digital yang membantu literasi, sekaligus memperkuat keterampilan komunikasi dan pendampingan. Pengalaman di Dusun Ngaran menjadi bahan untuk menyempurnakan pendekatan tersebut, terutama agar ruang belajar bagi remaja tetap informatif dan terasa aman.

Infoharian