B-1 AS Dipulangkan dari Inggris Usai Ancaman Keamanan
AS menarik seluruh pesawat pengebom B-1 dari RAF Fairford setelah muncul kekhawatiran keamanan. Penarikan berlangsung sepekan setelah insiden mencurigakan memicu evakuasi warga.
Amerika Serikat menarik seluruh pesawat pengebom B-1 yang ditempatkan di Pangkalan Udara RAF Fairford, Inggris, setelah muncul kekhawatiran mengenai ancaman keamanan terhadap fasilitas tersebut. Pentagon mengonfirmasi pesawat-pesawat itu telah kembali ke pangkalan induk di Amerika Serikat pada Minggu, 4 Oktober 2026.
Keputusan pemulangan ini menyusul insiden mencurigakan di sekitar RAF Fairford pada 27 September. Peristiwa tersebut memicu penyelidikan kepolisian antiterorisme Inggris dan evakuasi sementara warga di kawasan sekitar pangkalan. Namun, Pentagon tidak menjelaskan secara terbuka apakah insiden itu menjadi satu-satunya dasar penarikan pesawat.
Pentagon konfirmasi seluruh B-1 kembali ke AS
Dalam pernyataannya, Pentagon menyebut semua pesawat pengebom AS yang sebelumnya dikerahkan ke RAF Fairford telah kembali ke pangkalan asal. Departemen Pertahanan AS juga menegaskan bahwa kebijakan keamanan operasional membuatnya tidak dapat mengonfirmasi pergerakan aset dan pasukan secara waktu nyata.
Jumlah pesawat yang dipulangkan tidak diumumkan secara resmi oleh Pentagon. Sejumlah laporan media menyebut sekitar belasan pesawat, sementara CNN Indonesia, mengutip dua pejabat AS, menyebut jumlahnya mencapai 12 unit. Pesawat-pesawat itu diketahui ditempatkan di Fairford sebagai bagian dari rotasi rutin; beberapa di antaranya baru tiba dalam sepekan terakhir.
Penarikan tersebut disebut tidak lazim karena berlangsung cepat dari pangkalan milik negara sekutu yang berada dalam kondisi damai. CNN Indonesia melaporkan beberapa pesawat beserta awaknya segera dipulangkan, termasuk ketika pesawat pengisi bahan bakar udara masih dikerahkan untuk mendukung penerbangan mereka menuju AS. Sedikitnya tiga pesawat dilaporkan telah mendarat di pangkalan induk di South Dakota pada Minggu.
Insiden mencurigakan memicu evakuasi warga
Perhatian aparat tertuju pada sekelompok pria yang terlihat bersama beberapa mobil van di dekat RAF Fairford. Setelah menerima laporan warga, polisi antiterorisme Inggris melakukan penangkapan pada Minggu, 27 September. DetikNews dan CNN Indonesia menyebut lima pria ditangkap, sedangkan laporan ANTARA yang mengutip The Wall Street Journal menyebut enam tersangka.
Menurut CNN Indonesia, para pria itu dibebaskan dengan jaminan sehari setelah penangkapan, setelah petugas tidak menemukan bahan peledak di dalam van mereka. Sementara itu, kekhawatiran atas situasi di sekitar pangkalan sempat membuat penghuni 85 rumah dievakuasi. Informasi yang tersedia belum menunjukkan adanya bahan peledak atau serangan yang benar-benar terjadi di lokasi.
Para pejabat AS tidak merinci informasi baru yang mendorong penarikan pesawat secara terburu-buru. Seorang sumber yang dikutip CNN Indonesia mengatakan peringatan terbaru memiliki kemiripan dengan ancaman yang muncul tiga pekan sebelumnya. Namun, rincian ancaman dan tingkat urgensinya disebut meningkat tajam dalam rentang 25 jam.
Dugaan ancaman dan konteks ketegangan dengan Iran
Pangkalan RAF Fairford berada di Inggris bagian barat dan pernah digunakan AS untuk operasi pesawat pengebom terhadap Iran. Laporan sebelumnya pada September menyebut militer AS menerima peringatan dari intelijen Amerika dan negara-negara Barat lain bahwa pangkalan tersebut berpotensi menjadi sasaran serangan yang didukung Iran.
Dugaan itu muncul di tengah ketegangan antara AS-Israel dan Iran. Namun, informasi yang disampaikan dalam laporan-laporan tersebut belum memastikan siapa yang berada di balik ancaman terbaru. Iran disebut sebagai pihak yang dituduh terkait, tetapi pejabat AS tidak mengungkap bukti maupun rincian yang dapat menjelaskan tuduhan tersebut.
Untuk saat ini, hal yang dipastikan Pentagon adalah seluruh pesawat pengebom yang sebelumnya berada di RAF Fairford telah kembali ke Amerika Serikat. Penarikan itu menunjukkan bahwa kekhawatiran keamanan dinilai cukup serius untuk mengubah pengerahan aset militer, meski pemerintah AS tetap membatasi informasi mengenai dasar keputusan dan pergerakan pasukannya.
Perkembangan penyelidikan di Inggris dan penjelasan resmi berikutnya dari Washington akan menjadi perhatian untuk memahami ancaman yang melatarbelakangi langkah tersebut. Sampai ada keterangan lebih lanjut, dugaan mengenai pihak yang bertanggung jawab perlu diperlakukan sebagai tuduhan, bukan kesimpulan.
