Anak Sering Dimarahi? Kenali Dampaknya pada Mental
Anak yang sering dimarahi bisa menjadi lebih pendiam, menarik diri, atau kehilangan kepercayaan diri. Kenali perubahan yang perlu diperhatikan dan kapan orang tua sebaiknya mencari bantuan.
Anak yang sering dimarahi dapat mengalami perubahan perilaku dan kepercayaan diri. Sebagian menjadi lebih pendiam, menarik diri dari pergaulan, atau tampak kehilangan keyakinan pada dirinya sendiri. Perubahan semacam ini bisa luput dari perhatian orang tua, terutama jika dianggap sekadar fase tumbuh kembang.
Namun, perubahan sikap tidak otomatis berarti anak mengalami gangguan kesehatan mental. Orang tua perlu melihat apakah perubahan itu berlangsung terus-menerus, membuat anak tertekan, atau mengganggu kesehariannya di rumah, sekolah, dan lingkungan sosial.
Disiplin yang keras dan berulang juga perlu diwaspadai. Dampaknya bisa meluas hingga anak beranjak besar, sehingga mengenali tanda-tanda awal dan mencari bantuan yang tepat menjadi langkah penting.
Dampak pola asuh keras terhadap kesehatan mental anak
Sebuah penelitian terhadap lebih dari 7.500 anak di Irlandia menemukan kaitan antara pola pengasuhan bermusuhan pada usia dini dan risiko masalah kesehatan mental beberapa tahun kemudian. Anak yang mengalami pola tersebut pada usia tiga tahun memiliki kemungkinan 1,5 kali lebih besar menunjukkan gejala yang masuk kategori risiko tinggi pada usia sembilan tahun.
Penelitian yang dilakukan para peneliti dari University of Cambridge dan University College Dublin itu diterbitkan dalam jurnal Epidemiology and Psychiatric Sciences pada 2023. Para peneliti mengamati gejala pada anak saat berusia tiga, lima, dan sembilan tahun. Gejala yang ditelaah mencakup masalah internalisasi, seperti kecemasan dan menarik diri, serta masalah eksternalisasi, seperti perilaku impulsif, agresif, dan hiperaktif.
Sekitar 10 persen anak dalam penelitian tersebut masuk kelompok berisiko tinggi mengalami kesehatan mental yang buruk. Anak yang mengalami pola pengasuhan tidak ramah lebih mungkin berada dalam kelompok ini. Temuan itu menunjukkan adanya hubungan yang perlu diperhatikan, tetapi bukan berarti setiap anak yang dimarahi pasti mengalami gangguan mental.
Pola asuh bermusuhan dalam penelitian itu merujuk pada perlakuan atau disiplin keras yang terjadi berulang, baik secara fisik maupun psikologis. Contohnya termasuk membentak anak secara teratur, memberi hukuman fisik, mengisolasi anak saat berperilaku buruk, merusak harga dirinya, atau menjatuhkan hukuman berdasarkan suasana hati orang tua.
Tanda perubahan perilaku yang perlu diamati
Kesehatan mental anak dapat terlihat melalui perubahan dalam cara berpikir, berperilaku, berinteraksi, maupun mengendalikan emosi. Anak yang mengalami masalah bisa menunjukkan kecemasan atau menarik diri. Sebagian lainnya dapat memperlihatkan perilaku impulsif, agresif, atau hiperaktif.
Perhatikan pula perubahan yang tampak dalam keseharian, misalnya anak menjadi lebih pendiam atau kehilangan rasa percaya diri. Yang perlu dicermati bukan hanya satu kejadian, melainkan pola perubahan dan dampaknya terhadap kehidupan anak. Apakah ia tampak tertekan? Apakah hubungan sosial atau kegiatannya di rumah dan sekolah ikut terganggu?
Gejala kesehatan mental pada anak tidak selalu sama dengan yang dialami orang dewasa. Karena itu, orang tua bisa kesulitan mengenalinya. Kondisi kesehatan mental pada anak umumnya dipahami sebagai keterlambatan atau perubahan pada pikiran, perilaku, keterampilan sosial, atau pengendalian emosi yang menimbulkan tekanan dan mengganggu fungsi sehari-hari.
Pengaruh budaya juga perlu dipahami saat mengamati ekspresi emosi. Di sebagian lingkungan, menangis keras atau menunjukkan emosi kuat dianggap tidak pantas, sementara di lingkungan lain hal itu lebih diterima. Perbedaan cara mengekspresikan emosi ini perlu menjadi konteks, bukan satu-satunya dasar untuk menilai kondisi anak.
Langkah orang tua saat mengkhawatirkan kondisi anak
Jika perubahan perilaku anak menimbulkan kekhawatiran, orang tua dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Sampaikan secara konkret perilaku yang terlihat, kapan perubahan itu muncul, dan bagaimana pengaruhnya terhadap kegiatan anak. Informasi yang jelas membantu tenaga kesehatan memahami situasi dengan lebih baik.
Orang tua juga dapat berbicara dengan guru, pengasuh, kerabat, atau teman dekat yang sering berinteraksi dengan anak. Tanyakan apakah mereka melihat perubahan serupa di lingkungan lain. Pengamatan dari beberapa pihak dapat memberi gambaran yang lebih utuh, lalu informasinya dapat dibagikan kepada tenaga kesehatan anak.
Diagnosis dan penanganan dilakukan dengan mempertimbangkan gejala serta pengaruhnya terhadap kehidupan sehari-hari. Tenaga kesehatan mungkin menyarankan anak untuk bertemu spesialis bila diperlukan. Dengan demikian, orang tua tidak perlu menyimpulkan sendiri kondisi anak hanya dari satu tanda atau satu perilaku.
Menetapkan batasan tetap menjadi bagian penting dalam pengasuhan, tetapi batasan tidak harus disertai disiplin keras yang berulang. Peneliti Ioannis Katsantonis dari University of Cambridge menekankan bahwa orang tua tetap dapat menetapkan batas perilaku tanpa menerapkan hukuman keras secara terus-menerus. Dukungan bagi orang tua dan perhatian sejak dini dapat membantu mencegah masalah berkembang lebih jauh.
