Kanker Payudara pada Usia Lanjut dan Peran RAGE
Studi pada tikus mengaitkan RAGE, reseptor yang memperkuat sinyal peradangan, dengan peningkatan metastasis kanker payudara seiring usia. Analisis data tumor manusia menemukan hubungan serupa, tetapi belum membuktikan sebab-akibat.
Penyebaran kanker payudara ke paru-paru lebih banyak ditemukan pada tikus berusia tua dibandingkan tikus muda dalam tiga model penelitian. Studi tersebut menyoroti RAGE, reseptor yang berkaitan dengan sinyal peradangan, sebagai salah satu faktor yang mungkin membantu sel kanker menyebar seiring bertambahnya usia.
Temuan itu memberi petunjuk tentang hubungan antara penuaan dan lingkungan tubuh yang dapat mendukung perkembangan tumor. Namun, hasil pada tikus belum membuktikan bahwa mekanisme yang sama menyebabkan kanker lebih agresif pada pasien lanjut usia. Analisis tumor manusia dalam penelitian tersebut juga menunjukkan hubungan, bukan kepastian sebab-akibat.
Metastasis paru lebih banyak pada tikus tua
Peneliti membandingkan tikus berusia tiga bulan dengan tikus berusia sekitar 18 hingga 21 bulan. Pada ketiga model kanker payudara yang diuji, kelompok tikus tua mengalami lebih banyak metastasis ke paru-paru. Metastasis terjadi ketika sel kanker meninggalkan tumor awal dan tumbuh di bagian tubuh lain.
Perbedaan itu hampir sepenuhnya menghilang ketika RAGE dihilangkan pada tikus. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa reseptor ini terlibat dalam peningkatan penyebaran kanker yang berkaitan dengan usia pada model hewan. Penelitian yang ditulis Philip Miller dan kolega itu dimuat dalam jurnal Communications Biology.
IDN Times melaporkan bahwa peneliti juga menguji serum dari tikus tua di laboratorium. Serum tersebut mendorong sel kanker menjadi lebih invasif. Ketika RAGE atau molekul S100A8/9 dihambat, respons itu berkurang.
Peradangan dapat mengubah lingkungan tumor
RAGE merupakan singkatan dari Receptor for Advanced Glycation End-products. Reseptor ini memperkuat sinyal peradangan. Seiring penuaan, kadar sejumlah molekul yang dapat mengaktifkannya, termasuk S100A8/9 dan produk akhir glikasi lanjut atau AGEs, meningkat.
Aktivasi RAGE kemudian mengubah rangkaian sinyal di sekitar tumor. Perubahan itu berkaitan dengan kemampuan sel kanker untuk bergerak dan menyerang jaringan di sekitarnya. Dengan kata lain, perhatian penelitian bukan hanya tertuju pada sel kanker, tetapi juga pada kondisi tubuh yang mengelilingi tumor.
Meski demikian, temuan laboratorium tersebut belum menjelaskan seberapa besar pengaruh jalur peradangan itu terhadap perjalanan penyakit pada manusia. Bukti mekanistik utama berasal dari model tikus dan percobaan sel. Penelitian lebih lanjut diperlukan sebelum RAGE dapat dipastikan sebagai penyebab penyebaran kanker pada pasien.
Data pasien menunjukkan hubungan, bukan kepastian
Peneliti turut menganalisis 1.107 tumor payudara dari basis data kanker TCGA. Mereka menemukan bahwa ekspresi tinggi gen AGER, yang menghasilkan RAGE, berhubungan dengan masa bebas progresi yang lebih pendek. Hubungan tersebut terlihat lebih kuat pada pasien yang berusia lebih tua ketika didiagnosis.
Angka itu tetap harus dibaca dengan hati-hati. Analisis tersebut menunjukkan dua hal yang muncul bersamaan, yakni aktivitas AGER yang tinggi dan hasil yang lebih buruk. Data itu belum memastikan bahwa RAGE menyebabkan kanker berkembang atau menyebar pada pasien, apalagi memperkirakan perjalanan penyakit seseorang secara individual.
Usia juga bukan satu-satunya penentu. Kondisi pasien, karakteristik tumor, serta kemampuan menjalani pengobatan ikut berpengaruh. Peneliti mengingatkan bahwa perempuan di bawah usia 40 tahun pun dapat mengalami hasil yang buruk, antara lain karena diagnosis terlambat, mutasi gen tertentu, atau kanker payudara tripel negatif.
Karena itu, temuan tentang RAGE belum dapat dipakai sebagai dasar untuk menentukan pengobatan atau mencegah metastasis. Studi ini membuka arah penelitian mengenai kaitan penuaan, peradangan, dan penyebaran kanker, tetapi dampaknya bagi pasien masih perlu diuji lebih jauh.
