Laut Bercerita, Adaptasi yang Menyisakan Ruang bagi Keluarga

Film Laut Bercerita memindahkan kisah novel Leila S. Chudori ke layar dengan menekankan perbedaan pengalaman mahasiswa yang terancam dan keluarga yang menanti kepastian.

Film Laut Bercerita tidak hanya mengikuti perjuangan anak muda yang bergerak di bawah ancaman. Cerita juga memberi tempat bagi keluarga yang harus meneruskan hidup tanpa kepastian tentang orang yang mereka tunggu. Peralihan fokus itu menjadi salah satu cara film mengolah novel Leila S. Chudori ke dalam bahasa sinema.

Film berdurasi 135 menit ini disutradarai Yosep Anggi Noen, yang menulis skenario bersama Leila. Menurut ulasan ANTARA, keduanya tidak berusaha memindahkan semua bagian novel secara harfiah. Cerita dipadatkan dengan sisi kemanusiaan sebagai pusat, terutama keberanian anak muda, kehilangan, serta kehidupan keluarga setelah seseorang menghilang.

Respons penonton turut mengiringi perjalanan film tersebut. Kompas.com melaporkan film ini meraih 500.000 penonton dalam sepekan. Sebelum versi layar panjang hadir, pemutaran film pendek Laut Bercerita berdurasi sekitar 30 menit telah beberapa kali digelar pada 2017 hingga 2023. Scientia Indonesia mencatat tiket untuk sejumlah pemutaran bersama cepat habis. Di Padang, tiket presale untuk beberapa sesi juga ludes di salah satu bioskop.

Dari gerak mahasiswa ke penantian keluarga

Struktur film bergerak dalam dua bagian besar dengan suasana berbeda. Bagian awal membawa penonton ke kehidupan mahasiswa yang berlangsung dalam kewaspadaan. Pertemuan dan aktivitas kelompok dilakukan sembunyi-sembunyi, sementara ancaman membuat setiap gerak terasa berisiko. Persahabatan dan keyakinan para tokoh diuji oleh situasi yang tidak aman.

ANTARA menilai alur film relatif mudah diikuti dan ketegangan dibangun melalui rangkaian peristiwa yang bergerak cukup cepat. Namun, pemadatan cerita juga memiliki konsekuensi. Hubungan antartokoh yang dalam novel terasa dekat dan hangat tidak selalu mendapat ruang cukup untuk berkembang di layar. Penonton yang belum membaca buku mungkin perlu waktu untuk memahami latar dan hubungan para tokoh pendukung.

Film kemudian menggeser perhatian dari pergerakan mahasiswa ke kehidupan keluarga. Ketegangan yang sebelumnya hadir lewat ancaman berubah menjadi kesunyian dan duka. Kehilangan tidak berhenti pada orang yang tak diketahui keberadaannya; keluarga yang ditinggalkan juga harus menghadapi kecemasan dan menjalani hari-hari tanpa jawaban.

Perubahan titik berat itu membuat penantian menjadi bagian penting dari cerita. Rumah, yang biasanya menjadi ruang aman, tampil sebagai tempat yang menyimpan kerinduan dan pertanyaan. Film tidak hanya mengarahkan perhatian pada apa yang dialami para korban, tetapi juga pada dampak ketidakpastian bagi orang-orang terdekat mereka.

Adaptasi bukan salinan novel

Perbedaan antara buku dan film kerap dinilai lewat kesetiaan terhadap sumber. Tokoh yang porsinya berubah atau peristiwa yang dipadatkan bisa dianggap sebagai kekurangan. Namun, tulisan Rizky Amelya Furqan di Scientia Indonesia mengangkat gagasan Linda Hutcheon bahwa adaptasi merupakan tafsir sekaligus penciptaan ulang, bukan reproduksi yang harus serupa dalam setiap unsur.

Perubahan itu berkaitan dengan cara masing-masing medium menyampaikan cerita. Novel membangun pengalaman melalui narasi, deskripsi, dialog, dan ruang bagi imajinasi pembaca. Film mengandalkan gambar bergerak, suara, ekspresi, serta unsur sinematik. Karena itu, cerita yang sama dapat menghasilkan pengalaman berbeda tanpa harus kehilangan hubungannya dengan karya asal.

Pendekatan visual film ikut menopang perubahan suasana tersebut. ANTARA mencatat sinematografer Batara Goempar menggunakan kontras cahaya gelap dan terang, lorong sempit, serta ruangan minim cahaya untuk membangun kesan muram dan terisolasi. Kamera jarak dekat juga memberi ruang bagi ekspresi wajah dan perubahan emosi, sehingga tidak semua perasaan tokoh perlu diterangkan lewat dialog.

Bagi pembaca novel, layar menawarkan tafsir yang tidak mesti cocok dengan bayangan yang terbentuk saat membaca. Bagi penonton baru, film membuka kisah melalui pengalaman visual dan suara. Perbedaan itu bukan ukuran tunggal berhasil atau tidaknya adaptasi. Justru, pemindahan cerita ke medium lain memungkinkan bagian tertentu, seperti kehidupan keluarga yang menunggu, mendapat tekanan emosional berbeda.

Antusiasme terhadap film dan pemutaran sebelumnya memperlihatkan bahwa kisah ini menjangkau lebih dari pembaca novelnya. Setelah cerita hadir di layar, pertanyaan tentang nasib mereka yang hilang dan kehidupan keluarga yang ditinggalkan tetap menjadi bagian yang dibawa penonton keluar dari bioskop.

Infoharian