Gigi Copot akibat Kecelakaan, Apa Bisa Dipasang Lagi?
Benturan akibat kecelakaan dapat membuat gigi patah atau tanggal. Dokter gigi perlu memeriksa kondisi rongga mulut sebelum menentukan perawatan atau penggantinya.
Gigi copot akibat kecelakaan dapat menimbulkan pertanyaan: apakah gigi itu masih bisa dipasang kembali, atau harus diganti dengan gigi tiruan? Benturan pada wajah atau rahang memang bisa membuat gigi patah hingga terlepas. Namun, penanganan tidak bisa dipastikan hanya dari tampilan gigi yang hilang; dokter gigi perlu memeriksa kondisi rongga mulut dan sisa jaringan yang ada.
Jika gigi tidak dapat dipertahankan, ada beberapa pilihan untuk menggantikan gigi yang hilang, mulai dari gigi palsu, implan gigi, hingga dental bridge. Jenis perawatan yang sesuai bergantung pada kondisi pasien. Karena itu, memasang gigi palsu sendiri atau langsung menutup bagian yang ompong tanpa pemeriksaan bukan langkah yang dianjurkan.
Trauma dapat membuat gigi patah atau tanggal
Kecelakaan bukan satu-satunya penyebab gigi tanggal pada usia muda. Jatuh, cedera saat berolahraga, atau benturan pada rahang juga dapat merusak gigi. Selain trauma, kebiasaan menggigit benda keras dapat memicu gigi patah, sementara pengeroposan dan penyakit gusi juga bisa berujung pada kehilangan gigi.
Gigi yang terlihat masih utuh belum tentu bebas masalah. Pengeroposan dapat membuat gigi lebih sensitif dan mudah patah, sedangkan peradangan gusi yang tidak ditangani bisa merusak jaringan penyangga gigi. Bau mulut, gigi yang mulai renggang, serta nanah pada gigi atau gusi termasuk gejala yang perlu diwaspadai.
Setelah gigi hilang, pemeriksaan dokter diperlukan untuk menilai keadaan gigi dan rahang secara menyeluruh. Pemeriksaan membantu menentukan perawatan yang tepat, termasuk memastikan apakah masih ada akar gigi yang tertinggal. Kondisi sisa akar tidak sebaiknya diabaikan hanya karena bagian tersebut tidak terlihat.
Jangan menutup sisa akar dengan gigi palsu
Dokter gigi Callista Argentina mengatakan, pemasangan gigi palsu tanpa mencabut sisa akar terlebih dahulu tidak direkomendasikan. Akar yang tertutup gigi palsu dapat menjadi tempat menumpuknya sisa makanan. Kotoran yang terjebak berisiko memicu infeksi.
Infeksi dapat berkembang menjadi abses gusi, yakni kondisi ketika gusi dipenuhi nanah. Gejalanya dapat berupa nyeri berdenyut yang makin berat dan pembengkakan pada pipi. Jika infeksi berlanjut, dampaknya bisa menjalar hingga tulang rahang dan disertai pembengkakan kelenjar di leher.
Pada kondisi yang parah, pasien juga dapat mengalami demam, mual, kesulitan menelan, dan perubahan bentuk wajah. Dokter Callista menyarankan sisa akar dicabut sebelum pemasangan gigi palsu. Ia menyebut pasien umumnya perlu menunggu satu hingga empat minggu setelah pencabutan; dokter akan menentukan waktu yang sesuai dengan kondisi masing-masing.
Pilihan pengganti gigi yang hilang
Gigi palsu merupakan salah satu pilihan untuk menggantikan gigi asli yang ompong. Jenisnya mencakup gigi palsu lengkap dan sebagian, dengan bahan seperti akrilik atau logam. Gigi palsu dapat dilepas-pasang dan juga bertujuan membantu mencegah perubahan struktur tulang rahang akibat kehilangan gigi.
Implan gigi menjadi pilihan lain bagi orang yang kehilangan satu atau lebih gigi. Implan berfungsi sebagai akar gigi tiruan yang ditempatkan pada rahang untuk menopang gigi pengganti. Kondisi tulang rahang dan kesehatan mulut perlu diperiksa sebelum tindakan, sehingga prosedur ini harus dilakukan oleh tenaga medis yang ahli.
Dental bridge juga termasuk pilihan untuk menangani gigi ompong. Dokter gigi dapat membantu menentukan apakah pilihan ini, gigi palsu, atau implan lebih sesuai setelah memeriksa rongga mulut. Tidak ada satu jenis pengganti yang otomatis cocok untuk setiap orang.
Pemeriksaan menentukan langkah berikutnya
Proses pembuatan gigi palsu biasanya diawali dengan pemeriksaan dan rontgen untuk melihat susunan gigi serta rahang, sekaligus memastikan tidak ada akar yang tertinggal. Dokter kemudian dapat mencetak gigi dan menyusun rencana perawatan, termasuk desain serta bahan yang digunakan. Setelah gigi palsu dibuat, pasien perlu kembali untuk mencoba dan memastikan ukurannya sesuai.
Gigi palsu mungkin terasa asing pada awal pemakaian. Pemeriksaan lanjutan diperlukan untuk menilai kenyamanan dan memastikan tidak ada jaringan yang terluka. Jika gigi copot karena kecelakaan, langkah paling aman adalah meminta dokter gigi memeriksa kondisinya sebelum menentukan apakah gigi dapat dipertahankan atau perlu diganti. Keputusan yang tepat sejak awal membantu mencegah masalah lanjutan pada gusi dan rahang.
